Kalau mendengar kata bubur, yang muncul di kepala biasanya suwiran ayam, cakwe, daun bawang, dan kuah kuning. Bubur Ase Betawi datang dengan cerita yang berbeda karena semangkuk buburnya justru bertemu semur dan asinan sayur.
- Apa Itu Bubur Ase Betawi?
- Seperti Apa Rasanya?
- Kenapa Bubur Ase Tidak Seumum Bubur Ayam?
- Bubur Ase dan Cerita Sarapan Jakarta
- Kuliner Betawi Tidak Cuma Kerak Telor
- Kenapa Makanan seperti Ini Layak Dicoba?
- Jangan Mengharapkan Rasa seperti Bubur Ayam
- Bubur Ase Masih Menjadi Bagian dari Warisan Betawi
- Satu Mangkuk dengan Banyak Rasa
Rasanya pun tidak berjalan satu arah. Ada gurih, manis, asam, sedikit pedas, lalu tekstur renyah dari berbagai pelengkap. Indonesia Travel juga mencatat Bubur Ase sebagai hidangan tradisional Betawi yang biasa disantap saat sarapan.
Uniknya lagi, makanan ini tidak semudah bubur ayam untuk ditemukan. Data Warisan Budaya Takbenda mencatat Bubur Ase sebagai karya budaya DKI Jakarta yang ditetapkan pada 2019.
Apa Itu Bubur Ase Betawi?
Bubur Ase merupakan bubur nasi khas masyarakat Betawi, terutama dikenal dari kawasan Betawi Tengah. Yang membuatnya berbeda adalah bubur polos tersebut disajikan bersama kuah semur dan asinan sayur.
Bayangkan rasa semur yang cenderung manis dan gurih bertemu asinan yang asam segar. Kedengarannya agak tidak biasa, tetapi justru kontras itulah yang menjadi karakter utamanya.
Kenapa Namanya Bubur Ase?
Ada penjelasan populer bahwa “Ase” merujuk pada perpaduan asinan dan semur yang menjadi pendamping buburnya. Pedagang Bubur Ase yang diwawancarai RRI pada Januari 2026 juga menggunakan penjelasan tersebut untuk menggambarkan karakter hidangan ini.
Meski begitu, penjelasan asal istilahnya tidak selalu tunggal. Yang jelas, semur dan asinan memang menjadi dua elemen yang langsung membedakan Bubur Ase dari bubur lainnya.
Seperti Apa Rasanya?
Kalau bubur ayam biasanya bermain di area gurih, Bubur Ase punya rasa yang lebih ramai. Buburnya lembut dan relatif netral, kemudian kuah semur memberikan rasa manis-gurih, sedangkan asinan membawa rasa asam yang membuat satu mangkuk tidak terasa terlalu berat.
Lalu datang pelengkap seperti kacang tanah goreng, bawang goreng, emping, atau kerupuk merah. Hasilnya, tekstur lembut dan renyah muncul bergantian dalam satu suapan.
Asinan Bukan Sekadar Pelengkap
Kalau asinannya dihilangkan, identitas Bubur Ase langsung terasa berbeda. Sayuran yang diasinkan memberikan rasa segar dan tajam untuk menyeimbangkan kuah semur.
Perpaduan inilah yang awalnya mungkin terdengar aneh bagi orang yang belum pernah mencobanya. Namun, setelah dicampur, rasanya justru punya keseimbangan sendiri.
Semur Membawa Rasa Betawi yang Kuat
Kuah semur dalam Bubur Ase biasanya punya karakter manis dan kaya rempah. Beberapa versi menyertakan daging, tahu, kentang, atau kombinasi tertentu sesuai kebiasaan penjual dan keluarga masing-masing.
Karena itu, satu penjual dengan penjual lain belum tentu menghasilkan mangkuk yang benar-benar sama.
Kenapa Bubur Ase Tidak Seumum Bubur Ayam?
Di Jakarta, mencari bubur ayam pagi-pagi relatif gampang. Bubur Ase justru sudah jauh lebih jarang terlihat.
Beritajakarta mencatat bahwa penjualnya semakin terbatas, meskipun masih bisa ditemukan di beberapa kawasan seperti Tanah Abang dan wilayah Jakarta lainnya. Data Warisan Budaya juga menyebut kawasan Kwitang dan Tanah Abang sebagai area yang masih berkaitan dengan keberadaan hidangan ini.
Hal ini membuat Bubur Ase punya posisi yang menarik. Ia adalah makanan khas Jakarta, tetapi bahkan sebagian warga Jakarta sendiri belum tentu pernah mencobanya.
Bubur Ase dan Cerita Sarapan Jakarta
Dulu, bubur bukan sekadar makanan praktis sebelum berangkat kerja. Pilihan sarapan juga mencerminkan kebiasaan warga di sebuah kawasan.
Bubur Ase pernah dikenal sebagai salah satu menu pagi masyarakat Betawi. Beritajakarta bahkan mencatat cerita bahwa makanan ini pernah populer sebagai sarapan dan dijajakan secara keliling.
Sekarang situasinya berbeda. Pilihan sarapan modern semakin banyak, sementara makanan tradisional yang prosesnya lebih panjang harus bersaing dengan hidangan yang lebih praktis.
Kuliner Betawi Tidak Cuma Kerak Telor
Bicara makanan Betawi, orang sering langsung teringat kerak telor. Wajar karena makanan tersebut memang punya visual dan teknik memasak yang mudah dikenali.
Padahal, dapur Betawi jauh lebih luas. Ada soto, gabus pucung, nasi uduk, asinan, hingga berbagai jajanan dan makanan seperti tape uli.
Bubur Ase memperlihatkan sisi lain dari kuliner Betawi. Bukan street food kering atau makanan pesta, tetapi sarapan sederhana dengan kombinasi rasa yang cukup kompleks.
Kenapa Makanan seperti Ini Layak Dicoba?
Bukan semata-mata karena langka.
Mencicipi kuliner tradisional memberi kesempatan untuk memahami bagaimana orang di suatu daerah menyusun rasa dari bahan yang mereka kenal. Dalam Bubur Ase, kita bisa menemukan bubur, semur, asinan, dan berbagai pelengkap yang biasanya hadir sebagai makanan terpisah.
Di sini semuanya bertemu dalam satu mangkuk.
Itu yang membuatnya menarik. Bukan karena harus menjadi makanan favorit semua orang, tetapi karena rasanya punya karakter yang jelas.
Jangan Mengharapkan Rasa seperti Bubur Ayam
Kalau pertama kali mencoba, sebaiknya jangan datang dengan ekspektasi bubur ayam.
Bubur Ase punya jalur rasa sendiri. Asam dari asinan cukup terasa, sementara semur membawa rasa manis dan gurih yang mungkin terasa asing ketika pertama kali bertemu bubur.
Namun, justru sedikit kejutan itu yang membuat pengalaman makannya seru. Kadang makanan daerah memang tidak perlu disesuaikan dengan selera yang sudah kita kenal.
Bubur Ase Masih Menjadi Bagian dari Warisan Betawi
Bubur Ase sudah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia dari DKI Jakarta sejak 2019. Status tersebut menunjukkan bahwa nilainya tidak berhenti pada urusan enak atau tidak enak.
Ada pengetahuan memasak, kebiasaan masyarakat, dan sejarah kuliner yang ikut melekat di dalamnya.
Karena itu, keberadaan penjual yang masih mempertahankan resepnya punya arti penting. Tanpa orang yang terus memasak dan orang yang masih mau mencicipi, makanan tradisional bisa perlahan hanya tersisa sebagai nama.
Satu Mangkuk dengan Banyak Rasa
Pada akhirnya, Bubur Ase Betawi mungkin bukan sarapan yang paling gampang ditemukan di Jakarta. Namun, justru itulah yang membuatnya layak dikenal lebih jauh.
Bubur lembut, kuah semur manis-gurih, asinan yang segar, serta pelengkap renyah membuat satu mangkuk terasa punya banyak lapisan. Kalau biasanya sarapan bubur selalu identik dengan ayam dan cakwe, Bubur Ase bisa jadi pengalaman yang benar-benar berbeda.

