Makan Yok mencatat cara mencegah keracunan makanan kembali menjadi perhatian setelah BPOM memperkuat koordinasi pengawasan pangan bersama pemerintah daerah pada awal Oktober 2026. Upaya tersebut tidak hanya menyasar produsen atau pelaku usaha, tetapi juga menekankan pentingnya edukasi konsumen karena keamanan makanan ikut ditentukan oleh cara bahan disimpan dan diolah di rumah.
- Cara Mencegah Keracunan Makanan Dimulai dari Tangan
- Pisahkan Bahan Mentah dan Makanan Siap Santap
- Masak sampai Matang Sempurna
- Jangan Membiarkan Makanan Terlalu Lama di Suhu Ruang
- Kulkas Bukan Tempat Membuat Makanan Aman Selamanya
- Kemasan Juga Perlu Diperhatikan
- Cuci Buah dan Sayuran sebelum Dikonsumsi
- Jangan Terlalu Mengandalkan Bau
- Kebersihan Dapur Perlu Menjadi Kebiasaan
- Pengawasan Pangan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Pemerintah
Keracunan makanan dapat terjadi ketika pangan terkontaminasi mikroorganisme atau zat berbahaya.
Masalahnya, makanan yang tercemar tidak selalu memiliki aroma atau tampilan aneh.
Karena itu, kebiasaan di dapur menjadi pertahanan pertama.
Balai Besar POM juga mengingatkan masyarakat mengenai langkah sederhana seperti mencuci tangan, memasak sampai matang, serta mencegah kontaminasi silang. Panduan BPOM menempatkan kebersihan sebagai unsur dasar keamanan pangan.
Cara Mencegah Keracunan Makanan Dimulai dari Tangan
Langkah pertama sering terdengar sangat sederhana.
Cuci tangan sebelum menyentuh makanan.
Namun kebiasaan ini memiliki dampak besar.
Tangan menyentuh ponsel.
Pegangan pintu.
Uang.
Permukaan dapur.
Semua benda tersebut dapat membawa mikroorganisme.
BPOM menyarankan mencuci tangan menggunakan sabun dan air mengalir setidaknya sekitar 20 detik.
Hal yang sama perlu dilakukan setelah memegang bahan mentah.
Terutama ayam, daging, ikan, dan telur.
Pisahkan Bahan Mentah dan Makanan Siap Santap
Kontaminasi silang menjadi salah satu risiko terbesar di dapur.
Bayangkan pisau digunakan untuk memotong ayam mentah.
Pisau kemudian langsung dipakai memotong tomat untuk salad.
Bakteri dari ayam dapat berpindah ke makanan yang tidak akan dimasak lagi.
Karena itu, talenan sebaiknya dipisah.
Jika hanya memiliki satu, cuci menggunakan sabun setelah memotong bahan mentah.
Peralatan perlu benar-benar bersih sebelum digunakan kembali.
Prinsip ini juga berlaku di kulkas.
Daging mentah sebaiknya tidak ditempatkan di rak tepat di atas makanan siap makan.
Cairan dapat menetes.
Masak sampai Matang Sempurna
Panas membantu membunuh banyak mikroorganisme berbahaya.
Karena itu, bahan hewani perlu dimasak dengan baik.
Ayam yang masih berwarna merah muda pada bagian dalam sebaiknya tidak langsung dikonsumsi.
Telur juga memerlukan perhatian.
Begitu pula daging giling.
Makanan seperti ini memiliki risiko kontaminasi yang lebih luas karena permukaannya lebih banyak terpapar selama proses pengolahan.
Termometer makanan dapat membantu memastikan suhu.
Alat ini memang belum umum di dapur rumah Indonesia.
Namun penggunaannya semakin berguna terutama ketika memasak daging berukuran besar.
Jangan Membiarkan Makanan Terlalu Lama di Suhu Ruang
Setelah memasak, banyak orang meninggalkan lauk di meja selama berjam-jam.
Kebiasaan ini berisiko.
Mikroorganisme tertentu tumbuh cepat pada suhu hangat.
Makanan yang tidak langsung dimakan sebaiknya segera ditangani.
Jika akan disimpan, dinginkan dan masukkan ke kulkas.
Jangan menunggu sampai makanan benar-benar berada pada suhu ruang terlalu lama.
Untuk porsi besar, membagi makanan ke wadah lebih kecil dapat mempercepat proses pendinginan.
Kulkas Bukan Tempat Membuat Makanan Aman Selamanya
Suhu dingin memperlambat pertumbuhan mikroba.
Namun kulkas tidak menghentikannya sepenuhnya.
Makanan tetap memiliki batas simpan.
Label tanggal membantu.
Tuliskan kapan lauk masuk ke kulkas.
Dengan cara ini, anggota keluarga tidak perlu menebak.
Prinsip first in, first out juga bisa digunakan.
Makanan yang masuk lebih dulu dikonsumsi terlebih dahulu.
Kebiasaan sederhana ini mengurangi makanan terbuang sekaligus menurunkan risiko menyimpan makanan terlalu lama.
Kemasan Juga Perlu Diperhatikan
Keamanan pangan tidak berhenti pada isi.
Kemasan memiliki peran penting.
BPOM pada 2026 menerbitkan aturan baru mengenai kemasan pangan karena material yang bersentuhan dengan makanan dapat memengaruhi keamanan.
Tidak semua plastik cocok untuk makanan panas.
Wadah sekali pakai juga tidak selalu dirancang untuk digunakan berkali-kali.
Perhatikan petunjuk produsen.
Untuk makanan panas atau berminyak, gunakan wadah yang memang aman untuk kondisi tersebut.
Menggunakan kemasan sembarangan dapat menambah risiko yang sebenarnya mudah dihindari.
Cuci Buah dan Sayuran sebelum Dikonsumsi
Buah dan sayuran juga perlu dibersihkan.
Terutama jika dimakan mentah.
Gunakan air mengalir.
Tidak semua produk membutuhkan sabun.
Mencuci permukaan membantu mengurangi kotoran dan kontaminan yang menempel.
Sayuran daun perlu diperiksa bagian per bagian.
Bagian yang rusak atau membusuk sebaiknya dibuang.
Perhatikan juga area persiapan.
Wastafel yang kotor dapat menjadi sumber kontaminasi baru.
Jangan Terlalu Mengandalkan Bau
Mencium makanan memang berguna untuk mendeteksi pembusukan tertentu.
Namun metode ini tidak cukup.
Beberapa mikroorganisme penyebab penyakit tidak selalu menghasilkan bau.
Makanan bisa terlihat normal.
Warnanya juga mungkin tidak berubah.
Karena itu, riwayat penyimpanan lebih penting daripada sekadar indera penciuman.
Jika makanan sudah berada terlalu lama di luar kulkas atau tidak jelas kapan dibuat, pilihan paling aman adalah tidak memaksakan konsumsi.
Kebersihan Dapur Perlu Menjadi Kebiasaan
Dapur sering dianggap bersih karena digunakan untuk memasak.
Padahal beberapa titik dapat menyimpan banyak mikroorganisme.
Spons cuci piring.
Kain lap.
Talenan.
Pegangan kulkas.
Semua perlu dibersihkan secara rutin.
Kain lembap yang digunakan berkali-kali juga bisa menjadi sumber masalah.
Ganti atau cuci secara berkala.
Spons yang sudah berbau atau rusak sebaiknya tidak terus digunakan.
Pengawasan Pangan Tidak Bisa Hanya Mengandalkan Pemerintah
BPOM memperkuat koordinasi dengan Dinas KPKP DKI Jakarta pada 8 Oktober untuk pencegahan keracunan pangan dan peningkatan edukasi masyarakat.
Namun pengawasan formal hanya satu lapisan.
Konsumen tetap memiliki peran.
Produk berizin sekalipun dapat menjadi tidak aman jika penyimpanannya salah setelah dibeli.
Begitu juga makanan segar.
Kebiasaan di rumah menentukan hasil akhir.
Cara mencegah keracunan makanan akhirnya tidak membutuhkan alat mahal.
Kebersihan tangan, pemisahan bahan mentah, memasak sampai matang, pendinginan tepat, dan penggunaan wadah aman sudah menjadi fondasi kuat.
Dapur yang aman bukan dapur yang terlihat paling rapi.
Dapur yang aman adalah tempat setiap langkah pengolahan makanan dilakukan dengan sadar.

