Makanyok melihat tren kuliner Indonesia kembali bergerak dari layar ponsel ke meja makan. TikTok Food Fest 2026 akan mencapai puncaknya pada 26–27 September di Hutan Kota GBK, Jakarta, dengan menghadirkan lebih dari 40 tenant makanan dan minuman yang sebelumnya populer melalui konten digital.
Festival tahun ini membawa tema “Every Ingredient Tells a Story”. Konsepnya tidak hanya menampilkan makanan viral, tetapi juga cerita mengenai bahan, resep, tradisi, pelaku usaha, dan kreator yang berada di belakang sebuah hidangan.
Rangkaian TikTok Food Fest sendiri sudah berjalan sejak Juli melalui Food Directory dan kolaborasi kreator kuliner. Festival offline menjadi titik pertemuan antara promosi digital dengan pengalaman makan secara langsung.
Lebih dari 40 Tenant Akan Hadir
Pengunjung nantinya dapat menemukan lebih dari 40 tenant.
Beberapa nama yang disebut penyelenggara antara lain Nasi Jamblang Pedesan dan Yamien Agung. Pilihan lain mencakup makanan ringan, minuman, hingga produk yang populer karena kontennya banyak muncul di TikTok.
Festival tidak berhenti pada aktivitas mencicipi makanan.
Penyelenggara menyiapkan demonstrasi memasak, talkshow, pertunjukan musik, kegiatan wellness, permainan Culinary Passport, hingga aktivitas interaktif lain. Acara tersebut juga dapat dikunjungi tanpa tiket masuk.
Format tersebut memperlihatkan perubahan festival kuliner. Orang tidak lagi datang hanya untuk makan, melainkan mencari pengalaman yang dapat dibagikan kembali melalui media sosial.
Pesanan F&B Online Naik Hampir 95 Persen
Latar belakang festival tahun ini cukup menarik karena perdagangan makanan digital sedang berkembang cepat.
Data yang disampaikan TikTok menunjukkan jumlah pesanan produk makanan dan minuman melalui Tokopedia dan TikTok Shop pada semester pertama 2026 meningkat hampir 95 persen dibanding periode sama tahun sebelumnya.
Jumlah pelaku usaha F&B yang berjualan melalui ekosistem tersebut juga meningkat sekitar 184 persen.
Angka tersebut menunjukkan hubungan antara konten dan transaksi semakin dekat. Orang bisa menemukan makanan melalui video pendek pada pagi hari, lalu memesannya beberapa jam kemudian tanpa harus terlebih dahulu mengunjungi toko.
Bagi usaha kecil, perubahan ini membuka jalur pemasaran baru yang sebelumnya membutuhkan biaya promosi jauh lebih besar.
Konten Kuliner Tumbuh 52 Persen
Pertumbuhan transaksi berjalan bersama peningkatan konten.
TikTok mencatat jumlah konten terkait makanan naik sekitar 52 persen pada 2025. Lebih dari delapan juta unggahan tercatat menggunakan berbagai tagar seperti #Kuliner, #JajananTikTok, #JelajahKuliner, #MakananSehat, dan #CemilanSehat.
Fenomena tersebut menjelaskan mengapa satu menu dapat menjadi terkenal begitu cepat.
Dahulu, restoran membutuhkan waktu panjang untuk membangun reputasi dari mulut ke mulut. Sekarang satu video yang ramai dapat mendatangkan pelanggan baru dalam hitungan hari.
Namun viralitas juga membawa tantangan. Pelaku usaha harus mampu mempertahankan kualitas ketika volume pesanan tiba-tiba meningkat.
Makanan yang terlihat menarik di layar tetap harus enak ketika sampai ke konsumen.
UMKM Bisa Mengubah Viralitas Menjadi Penjualan
Salah satu contoh datang dari Cimol Bojot AA.
Setelah mengikuti TikTok Food Fest 2025, usaha tersebut mencatat pertumbuhan gross merchandise value bulanan sekitar 66 persen pada November 2025 di seluruh akun TikTok Shop by Tokopedia.
Angka itu tidak berarti setiap tenant otomatis memperoleh hasil serupa. Produk, kualitas konten, harga, distribusi, dan kemampuan menjaga pelanggan tetap menjadi faktor utama.
Meski begitu, contoh tersebut memperlihatkan potensi festival sebagai lebih dari sekadar bazar akhir pekan.
Festival dapat menjadi titik awal konsumen mengenal sebuah merek. Setelah acara selesai, hubungan dapat dilanjutkan melalui toko online, konten kreator, dan layanan pengiriman.
Kuliner Nusantara Tetap Jadi Daya Tarik
Meski platformnya sangat digital, identitas kuliner lokal tidak ditinggalkan.
TikTok Food Fest 2026 membawa cerita mengenai bahan pangan, hidangan khas, dan resep yang berakar pada berbagai daerah Indonesia. Penyelenggara ingin memberi ruang agar makanan lokal tidak hanya muncul sebagai tren sesaat, tetapi memiliki cerita yang dapat dipahami konsumen.
Pendekatan semacam ini penting karena makanan viral sering mengalami siklus pendek.
Satu menu bisa memenuhi linimasa selama beberapa minggu, lalu hilang ketika tren berikutnya muncul. Cerita mengenai daerah asal, teknik memasak, dan bahan lokal dapat memberi identitas lebih panjang.
Melalui ANTARA, penyelenggara juga mengaitkan festival dengan pertumbuhan industri makanan Indonesia. Industri makanan dan minuman pada 2025 disebut tumbuh 6,38 persen, sementara sektor akomodasi serta penyediaan makanan-minuman tumbuh 7,41 persen.
Dari Konten ke Kunjungan Restoran
Tren berikutnya bukan hanya belanja makanan secara online.
TikTok juga mencoba mendorong orang datang langsung ke lokasi usaha melalui fitur yang menghubungkan konten dengan tempat makan.
Bagi restoran, pola tersebut menarik karena video dapat bekerja seperti rekomendasi visual. Konsumen sudah mengetahui menu, suasana, dan kisaran pengalaman sebelum tiba.
Namun ada risiko ekspektasi terlalu tinggi. Presentasi makanan dalam konten sering dibuat pada kondisi terbaik, sementara pengalaman konsumen bergantung pada waktu kunjungan, antrean, pelayanan, dan konsistensi dapur.
Pelaku usaha karena itu perlu melihat konten sebagai pintu masuk, bukan pengganti kualitas produk.
Festival Kuliner Kini Menjadi Ekosistem
TikTok Food Fest menunjukkan festival makanan 2026 tidak lagi berdiri sendiri.
Kreator membawa perhatian, UMKM menyediakan produk, marketplace memfasilitasi transaksi, layanan pengiriman menghubungkan penjual dan pembeli, sedangkan acara offline menciptakan pengalaman langsung.
Semua bagian tersebut saling menguatkan.
Pengunjung yang menemukan makanan di festival bisa membelinya lagi secara online. Sebaliknya, pengguna yang sudah sering melihat sebuah produk di TikTok dapat menggunakan festival sebagai kesempatan mencicipinya untuk pertama kali.
Puncak acara baru berlangsung 26–27 September, sehingga jumlah pengunjung dan nilai transaksi final belum tersedia per 17 September.
Namun data sebelum festival sudah menunjukkan satu pola yang cukup kuat: konten kuliner semakin mampu mengubah rasa penasaran menjadi transaksi nyata.
Bagi UMKM makanan, tantangan berikutnya adalah memastikan perhatian tersebut tidak berhenti setelah tren berlalu. Produk yang kuat, pelayanan konsisten, dan cerita yang autentik tetap menjadi bahan utama agar bisnis bertahan lebih lama daripada satu video viral.

